Apa yang hitam, besar, dan mahal? Taksi!

28 07 2006

Di Inggris tidak ada taksi Blue Bird. Tapi di London ada restoran Blue Bird. Emang sih, dulu restoran ini bekas tempat berkumpulnya mobil-mobil rakitan yang bernama mobil Bluebird. Ya, sama-sama mobil. Yang di Indonesia masih berbentuk mobil, yang di London udah berbentuk rumah makan. Taksi di London nama kerennya Hackney Carriage, atau disebut juga Black Cab, karena memang hitam warnanya.

Black Cab bentuknya lucu (baca: aneh), berkesan eksklusif dan emang rada luas. Duduknya cuma bisa di belakang supir (mau duduk di sebelah supir? ga boleh). Antara kursi penumpang dan yang nyupir ada jendela kacanya (mirip naek limosin gitu deh). Taksi yang satu ini bisa disetopin di mana aja, cukup dengan melambai-lambaikan tangan. Setelah itu… tinggal naek, sebutin tempat tujuan, dan siap-siap ngerogoh-rogoh saku dalam-dalam (mahal bow… £2.50 atau sekitar Rp 40.000 sekali nempelin pantat).

Nggak perlu takut tidak sampai tujuan; nggak perlu takut nyasar; dan seharusnya sih nggak perlu takut diculik. Katanya sih, dijamin deh supir-supir Black Cabs ini orang profesional dan paling tau seluk-beluk kota London.

Para pengemudi Black Cab diharuskan sekolah (ngambil kursus) yang namanya the Knowledge (kependekan dari Knowledge of London). Nah lho. Apa pulak ini? Sekolah menyetir? Bukan sih. Ini sekolah pengenalan jalan. Kursus ini dijalani selama kurang lebih 34 bulan (hampir 3 tahun! Nggak kalah deh sama yang S1). Selama kursus, si calon supir harus menghafalkan jalan-jalan yang ada di kota London (bahkan mereka hafal urutan-urutan gedung yang ada di suatu jalan), jalan-jalan pintas, dan sebagainya. Selama 34 bulan, mereka ada 10 tes atau ulangan (yang disebut appearances). Gila yeuh, mo jadi supir aja susah banget.

Pada saat hadir dalam appearances, seorang knowledge-boy atau knowledge-girl (sebutan untuk calon supir Black Cab) harus dapat menemukan rute tercepat dan terbaik antara tempat-tempat di kota London pilihan penguji, tanpa melihat peta. Untuk setiap rute, para calon pengemudi harus menyebutkan dengan tepat nama-nama jalan yang dilalui; di mana (kapan) mereka harus menyebrangi persimpangan, mengitari bundaran, berbelok; dan apa yang ada di sekitar mereka di setiap sisi jalan yang dilalui. (terjemahan bebas dari wikipedia).

Kapan lulusnya? Ya sampai hafal semua jalan di kota London. Maka dari itu, kalau naik Black Cab harus siap-siap rogoh dompet (atau bahkan ngerampok bank). Soalnya yang dibayar nggak cuma jalan dari satu tempat ke tempat lain, tapi juga bayar pengalamannya. Pengalaman apaan? Ya, pengalaman naik taksi unik (di Indonesia kagak ada Black Cab); pengalaman disetirin oleh pengemudi taksi yang pandai (beneran lho, menurut penelitian, dengan belajar begini, supir-supir Black Cab terangsang pertumbuhan dan penggunaannya)… ya dan lain-lainnya lah.

Ya, tapi gitu. Kayaknya nggak boleh sering-sering naik taksi model beginian. Sebagai contohnya nih, untuk naik taksi beginian dari bandara udara Heathrow ke tengah kota London, kudu aja ngebayar sekitar 70an lebih poundsterling (ampir 1.2 juta rupiah! ya ampon… mendingan dibuat makan ketauan deh). Bandingkan dengan tarif 15–25 poundsterling (tergantung waktu — jam sibuk atau jam sepi, dan tergantung perjalanan — sekali jalan atau bolak-balik) untuk naik kereta Heathrow Express; atau tarif 3.50–12.50 poundsterling (tergantung waktu dan jenis perjalanan) kalo pake kereta bawah tanah (nama kerennya Tube). Atau kalo bawaannya ga banyak, naek bis ‘cuma perlu’ ngeluarin antara 0.80–3.50 poundsterling (juga tergantung waktu dan jenis perjalanan).

Nah, tapi ya… sekali-sekalilah jajal naek Black Cab, seru aja gitu.





Gelantungan Menantang Maut

27 07 2006

Buat yang udah di dalam bis, hal yang paling menyebalkan adalah duduk dan/atau berdiri berhimpit-himpitan. Apalagi kalau udara sudah panas buanget, nyelekit, sumuk, lengket, dan seterusnya. Sering kan terjebak di dalam bis yang menurut anggapan penumpang itu “sudah penuh sekali”, sedangkan menurut kenek “masih muat sekompi lagi”.

Paling males kan, kalau pagi-pagi buta pas berangkat kerja sudah dijepit-jepit. Udah dandan cantik-cantik, mandi pagi pake air kembang (sabun wangi kembang) biar wangi… eeeh… di bis dijepit-jepit. Ditambah lagi hembusan hawa panas dan sindrom kukusan… turun dari bis, tiba-tiba sudah berubah bentuk. Baju yang sudah susah payah disetrika jadi lecek nggak karuan dan hampir mirip dengan kain pel. Sepatu yang baru disemir tiba-tiba jadi korban/oknum injak-meninjak sesama penumpang.

Maka dari itu, senang sekali bis-bis di London mengenal kata-kata: “terlalu penuh” dan  “maaf, kami tidak bisa mengangkut penumpang lebih dari ini”. Kalau muatan di dalam sudah maksimal — dedempetannya sudah di ambang batas antara manusiawi dan maha-sadis — si bis nggak akan nerima penumpang lagi. Boro-boro ngaso di halte. Bis bakal tancap gas tanpa berhenti, kecuali kalau ada penumpang yang minta diturunin. Kalau ada yang minta diturunin, bis akan berhenti di halte, dan membuka pintu belakang (ya, ya, ya, pintunya benar-benar berfungsi!).

Tapi ketika menunggu bis… hal yang kayak gini bikin sebel. Nyebelin banget. Sebal setengah mati. Aing paeh gitu deh. Apalagi kalau sudah lewat tengah malam. Bis yang datang semakin jarang (sejam sekali aja udah bagus deh). Kalau tempat tujuannya deket sih masih mending, masih bisa manual, alias jalan kaki. Kalau jauh?

Sebel aja ngeliat bis yang melaju dengan kecepatan penuh, dan penumpang-penumpang yang ada di dalam memandang kasihan ke arah kita-kita yang masih nongkrong di halte (kalo musim dingin… ya ampuuunnn menderitanya!).

Kalau sudah seperti ini, ingin rasanya bis itu seperti di Indonesia, yang walaupun cuma jempol kaki kanan dan satu tangan yang berhasil masuk secara sah ke dalam bis… Yang penting sampai tujuan dengan selamat.

Hmmmm…





Ajaib. Pintu bisnya bener-bener berfungsi

24 07 2006

Naik bis keliling kota London.. dari satu tempat ke tempat yang lain — desek-desekan dan panas-panasan. Sebel aja di sini ngga ada Patas AC. Emang sih, AC nggak berguna kalo lagi musim dingin. Tapi musim panas kayak gini… nggak pake AC? Kiyamat sudah dekat kayaknya. Akhirnya kipas-kipas pake kartu pos yang sebenernya disayang-sayang buat oleh-oleh. Ya sudahlah, kartu pos bisa beli lagi, tapi panas dan gerah mesti cepet-cepet ditanggulangi.

Bis goyang-goyang ke sana dan ke mari (bukan mobil goyang lho ya, dan bisnya nggak goyang gara-gara itu). Berdiri himpit-himpitan bagaikan ikan sardencis dalem kaleng. Mau pegangan ke gantungan yang ditempel di langit-langit bis susah… Emang susah jadi orang pendek.

Ada laki-laki pake kaos singlet gonjreng, yang karena dirinya tinggi bisa menggapai pegangan tangan nan jauh itu). Dan karena saya nggak cukup tinggi, hidung saya boleh dibilang pas ketiak.

Karena hari itu panas, sumuk, sumpek, dan penuh keringat; dan karena lelaki lebih nggak dituntut untuk bersih-bersih daerah ketiak dari rumput liar… ya… selamat datang di hutan hujan tropis deh.

Nahan napas juga nggak ada gunanya. Memalingkan wajah juga nggak ada gunanya. Syukurlah, sebelum sempet pingsan (kan kalo pingsan.. malu dong), tempat tujuan udah terlihat di depan mata. Halte bis terlihat kayak oasis yang bener-bener mengundang orang kehausan di padang gurun… er.. hutan hujan tropis.

Pencet bel dan nunggu diturunin. Ya, ya, ya. Nggak bisa getok-getok koin ke kaca sembari teriak-teriak minta ke kiri.

Lompat ke aspal…

MERDEKA!





Pinjem? Beli!

24 07 2006

Kalo diliat-liat, toko buku di sini mirip banget sama perpustakaan. Bahkan, lebih asik di sini (untuk buku-buku baru) dibandingin perpustakaan. Tentu aja, kalo nyari buku-buku terbitan jaman firaun, nyarinya tetep di perpustakaan. Bangkunya gede-gede, sofanya empuk-empuk, ada kafenya, ada musiknya (dan kayak di perpustakaan — nggak ada yang ngusir kalo duduk kelamaan atau baca buku kebanyakan). Bahkan, beberapa toko buku juga buka lebih lama daripada perpustakaan.

Emang jualan kayak gini bisa untung, ya?

Nggak cuma baca buku aja sih, tapi juga numpang tidur, numpang ngadem, numpang ngeceng. Apa lagi pas musim panas yang naujubile panasnya kayak beberapa tahun kebelakangan ini (mulai tahun 2004 sampe sekarang, musim panasnya lebih panas daripada Rio de Janeiro). Minta air es gratis dari kafe, ngadeprok di sofa empuk yang nangkring di bawah AC… ngadem gratis. Baca senovel dua novel… wah ratusan lembar. Panjang yeuh. Mata udah sipit baca buku, dan keinginan belanja dan ketemu cipiki cipika sama temen masih harus dipenuhi nih.

Taruh buku di rak, ingetin halaman yang terakhir dibaca (biar laen kali bisa ngelanjut baca, dong)… dan ngaleos keluar.

Lama kelamaan kayak gitu terus (berhari-hari, berbulan-bulan), ya merasa berhutang budi juga sama toko yang “baik hati”. Biar nggak tengsin dan supaya nggak dianggep orang modisan (modal gratisan): beli barang yang paling murah di seantero toko. Ya… yang penting udah beli (katanya). Akhirnya jadi beli sebuku dua buku buat hadiah ulang tahun seorang dua orang teman. Jangan lupa simpen struk pembelian biar si temen kalo ngga suka bisa ngembaliin.

Lirak-lirik ke luar… kok masih terik ya? Pengen juga minta air dingin gratisan lagi… tapi nggak deh. Akhirnya beli jus jeruk yang superduper dingin. Nyam.





Ospek: Beda Judul yang Menyesatkan

22 07 2006

Ospek itu singkatan dari “Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus”. Sebenernya nggak cuma di kampus perguruan tinggi ajah (universitas kek, politeknik kek, dll), tapi juga menimpa seluruh anak baru di semua jenjang (mungkin SMP, SMA kali ya. SD? atau ada yang pernah liat ospeknya anak-anak TK?)

Bisa disebut macam-macam. Ada yang namanya Mapram, ada yang namanya Posma, ada yang namanya… Budi, Siti, Tuti… Apa sih ospek itu? Banyak jawaban diplomatis. Tapi, jawaban singkatnya ada dua jenis. Jawaban jenis pertama itu jawaban yang biasanya dilontarkan oleh anak-anak baru (istilah kerennya newbies): “Dikerjain, disiksa, dipermalukan sama kakak-kakak kelas”. Jawaban jenis kedua itu biasanya dilontarkan oleh anak-anak lama (istilah kerennya nyaris mahasiswa abadi): “Bales dendam, ngelepasin setres, ngerjain korban baru, sekaligus ngecengin anak-anak baru yang tampangnya ngejual.” Ya, itu kasarnya.

Ospek itu sebenarnya bagus juga untuk mempercepat siswa untuk kenal satu dengan yang lainnya. Yang tertindas saling bahu-membahu memompa semangat, yang menindas saling bahu-membahu… menindas. Ya, pokoknya biar kompak.Tapi… tetep aja nyeremin.

Ospek yang macem gini nggak cuma ada di Indonesia ajah. Di luar Indonesia juga ada. Biasanya sih buat masuk ke perkumpulan tertentu. Nama kerennya: hazing.  Jadi di sana, kalo misalnya seorang murid nggak masuk ke perkumpulan, atau nggak ada niat untuk jadi anggota suatu organisasi tertentu… ya kecil kemungkinannya dia kena ospek. Atau misalnya cuma masuk ke perkumpulan keagamaan, gitu juga nggak kena ospek (kan, ngerjain orang atau menindas orang itu dosa lho).

Jadi, waktu aku mulai kuliah dan masuk asrama… udah punya akal bulus untuk nggak ikut organisasi kesiswaan apa-apa. Atau paling nggak nyari tau organisasi mana yang nggak pake ospek-ospekan. (ya, saya pengecut).  Pokoknya, senang sekali lepas dari mulut macan menyeringai sakit gigi. Tiba-tiba rasa rindu rumah dan rindu-rinduan lain hilang: HORE! Di sini gue nggak akan kena ospek!

Sialnya, malam pertama di asrama udah diganggu sama yang namanya sirene kebakaran. Dan sebagai asrama taat hukum, semua penghuni dikeluarin dari kamarnya dan dideret di lapangan depan asrama. Pake piyama dan nggak pake alas kaki (saking paniknya sampe nggak nemu sendal ataupun sepatu, padahal kamar asrama kecilnya minta ampun).  Di luar… dingin. Inggris di bulan Oktober biasanya dingin. Inggris di bulan apa aja biasanya emang dingin. Selalu dingin. Nggak pernah nggak. Satu negara dikutuk jadi pusdiklatnya Kutub Utara. Dan saya adalah… pendatang dari daerah tropis. Kesannya kayak unta disuruh main-main di Antartika.

Begitu selanjutnya sampai seminggu lamanya. Lama-lama terbiasa masuk ke dalam selimut pakai sendal jepit dan sarung. Lama-lama janjian dengan orang-orang asrama sebelah: “Sampe ketemu besok pas sirene lagi, ya? Besok keluarnya ke sini lagi, ya?” Lama-lama kenalan dan punya banyak temen.

Nggak ada ospek sih, tapi tetep aja dikerjain sama penghuni asrama yang lebih senior.