Hari Besar, bukan Si Hari yang Gemuk

28 09 2006

Udah masuk bulan puasa nih — udah hari kelima, malah. Selama ini aku nggak pernah gitu mikirin soal jadwal bulan puasa dan gimana aku menyikapi bulan puasa. Nggak cuma Ramadhan ajah, tapi juga masa puasa Pra-Paskah, di samping puasa-puasa laen di luar yang diharuskan oleh agama (baca: puasa kalo ada maunya… kadang-kadang aku puasa mutih atau puasa Novena kalo lagi ada masalah… jelek sih, harusnya kan puasa ga cuma buat minta doang ya? Tapi juga buat bersyukur. *kabur dari Romo*). Maksudnya, selama tinggal di Indonesia, jadwal bulan-bulan puasa kayaknya normal, bergulir, dan bagian dari kehidupan sehari-hari. Beda dengan ketika aku lagi kuliah di negeri Pangeran William. Kayaknya, untuk tau hal-hal ini butuh usaha ekstra.

Di situ, aku baru ngerasain bedanya kehidupan beragama di Indonesia dan di sana. Ketika di sana, kadang-kadang aku ngerasa ada disorientasi waktu, sering kebablasan dan nggak sadar kalo sudah hampir mendekati hari besar keagamaan. Emang sih kalo yang namanya Hari Natal dan Paskah tentu aja jadi hari-hari yang dirayakan di Inggris — berhubung negaranya masih terhitung Negara Kristen, di mana sang Ratu masih jadi kepala Gereja Anglikan. Tapi, untuk selebihnya, penanda waktunya sering nggak jelas dan seringkali encer. Di kalender biasa, nggak begitu jelas… kalau mau jelas harus beli kalender keagamaan atau sejenis itu. Untung aku waktu itu magang di LSM yang kerjaan sehari-harinya nggak jauh dari hubungan antar-agama dan antar-kepercayaan, jadi agak-agak terbantu lah.

Kalo nggak punya kalender, nggak punya televisi, jarang baca koran… bisa-bisa kebablasan beneran. Dulu aku pernah hampir melewati hari Rabu Abu begitu saja. Padahal, Rabu Abu itu salah satu hari terpenting dalam rentetan kegiatan Pra-Paskah. Kalo nggak ada yang mengingatkan tentang hari, kalo nggak ada yang bilang: “eh, minggu depan udah Pekan Suci lho!” waduh… ya pasti terlupakan. Apakah saya juga termasuk orang yang cuek? Mungkin selama ini udah dicekokin, jadi sekalinya dilepas untuk tau sendiri… jadi kendor. (hehehe.. kendor).

Ketika masih SMP dan SMU aku selalu diingatkan oleh hal-hal yang terjadi di sekelilingku. Sekolahku yang sekolah katolik itu nggak pernah lupa buat ngingetin anak-anak katoliknya buat mulai bersiap-siap menghadapi bulan suci. Mesti mulai latihan puasa, mesti mulai latihan berdoa, mulai latihan nggak marah… dan semuanya dilatih oleh para guru yang tiba-tiba jadi rajin ngasih ulangan mendadak banyak-banyak. Mesti sabar, mesti sabar… Fiuh. Begitu juga ketika hendak memasuki bulan Ramadhan. Nggak mungkin akan terlewatkan, atau terlupakan. Banyak teman-teman sekelas yang akan segera menjalankannya, dan banyak perubahan-perubahan kecil yang bermakna.

Waktu di Inggris, aku ikut Gereja Anglikan, bukan karena aku tiba-tiba pindah agama (dari Katolik jadi Anglikan… yey, beda-beda tipis), tapi karena gereja itulah yang paling deket dengan asrama, dan banyak teman-teman sekampus yang ke sana. Di sana, umatnya nggak seramai di Indonesia. Gereja yang besar itu (yang umurnya jauh lebih tua daripada umurku, atau umur kebanyakan gereja tua di Indonesia) cuma diisi oleh segelintir orang — lebih mirip kapel daripada gereja. Persiapan untuk Paskah juga nggak seheboh waktu aku masih di Indonesia. Semuanya terkesan low-key, serba seadanya. Meriah di sana adalah perayaan sederhana di rumah Pastor Kepala.

Maka aku sering merasa disorientasi, karena hari-hari besar itu datang dengan tiba-tiba. Tiba-tiba saja, pada hari minggu si Pastor Kepala mengumumkan: “Minggu depan sudah masuk masa Pra-Paskah, semua diundang ke rumah saya pada hari selasa untuk makan panekuk.” Hari selasa pertama di masa Pra-Paskah itu disebut juga Shrove Tuesday, atau Pancake Day. Ini adalah hari sebelum hari Rabu Abu.

Jadi, kebayang lah betapa “cuek”nya keseluruhan pandangan penduduk Inggris terhadap kegiatan keagamaan. Kalo yang namanya Paskah dan Natal harus diingatkan melalui iklan-iklan toko yang menawarkan diskon dan harga khusus, kalau yang namanya hari besar identik dengan belanja sampai miskin dan makan sampai kegemukan… gimana ya? Aku ngerasa, di luar komunitas keagamaan masing-masing (yang semakin menyempit), agama itu nggak lebih jadi alasan untuk komersialisasi. Christmas Sale sekarang udah dimulai sejak akhir Oktober, dan kayaknya semakin lama semakin maju. Lama-lama, belanja hadiah Natal dilakukan di bulan Januari deh.

Eh, tapi ada kok temen-temen yang beli hadiah Natal di bulan Januari. Alasannya: barang-barang bernuansa Natal sisa Natal kemarin itu semuanya didiskon habis-habisan. Jadi, nggak ada salahnya untuk belanja hadiah murah, yang kemudian disimpan di gudang selama hampir satu tahun. Paskah juga gitu, ditandai dengan Easter Sale yang bersamaan dengan Spring Holiday, yang adalah hari libur anak-anak sekolah… libur 3 minggu yang bikin bingung. Kadang-kadang karena libur, sampe lupa kalo yang namanya hari Paskah udah ampir kelewatan. Susah deh, kalo bukan anggota kongregasi.

Kalo cuma mengandalkan kalender, atau penanggalan ala toko-toko… ya dijamin pengalaman rohaninya dikit. Ngumpulin dosa malah iya, sikut-sikutan sama nenek-nenek rebutan barang diskonan. Hidup di sana kan lumayan mahal, jadi semua terpaksa jadi modis — modal diskonan. Kalo udah ngeliat barang diskon bisa kalap, bisa lupa orang, bisa khilaf.

Di Indonesia, masih banyak hal-hal yang bernuansa religius. Dari adzan yang membahana dari masjid-masjid RW, sampai acara-acara siraman rohani yang ada di televisi. Dan terlepas dari bagus nggaknya sinetron hidayah… sedikit banyak masih bisa ngajak kita berpikir tentang hal-hal rohaniah. Di Inggris, cuma sedikit acara yang bernuansa rohani, entah itu di televisi atau di media cetak. Jarang nemu kalo nggak nyari.

Sebenernya bukannya mereka ateis, tapi mungkin udah begah (atau kapok, atau males?) sama agama yang terorganisir? Buktinya mereka heboh banget pas demamnya Da Vinci Code — sampe pada berbondong-bondong ke Perancis buat ke Louvre, dan ke Roma buat ke Vatikan, atau hebohnya filem Pak Mel Gibson, The Passion of Christ.

Atau, acara-acara religi hanya ditayangkan kalo agendanya pas: misalnya ada Bulan Islam di mana stasiun-stasiun televisi menayangkan serentetan filem dokumenter mengenai Islam. Pas lagi bulan Ramadhan? Nggak juga. Tapi pas lagi santer-santernya isu teroris. Jadi, bisa dibilang “agendanya” adalah untuk memasyarakatkan Islam (atau agama lain sesuai “tema”), untuk memberikan alternatif reportase.

Tema-tema yang pernah diangkat, yang pernah aku ikuti: Agama Yahudi (terutama tentang Holocaust, Rosh Hashanah, dan Yom Kippur); Agama Sikh (terutama tentang hari besarnya dan 5KKanga, Kachha, Kara, Kirpan, Kesh); profil orang-orang “biasa” yang beriman (dari berbagai agama di Inggris); juga The Monastery, sebuah reality show mirip Big Brother, dengan setting sebuah biara. Acara The Monastery ini ada sekwelnya, The Convent. Kalo The Monastery ceritnya tentang cowok-cowok yang masuk biara (bukan ikan teri di monas), The Convent ini tentang cewek-cewek yang masuk biara.

Terlepas dari bulan-bulan atau acara-acara tematis, nggak ada acara yang benar-benar reguler, kecuali mungkin Songs of Praise, sebuah acara yang menayangkan lagu-lagu rohani, juga profil-profil orang beriman.


Tindakan

Information

Satu tanggapan

29 09 2006
isdah

*telp Romo, laporin klo Henny puasa klo ada maunya*

Tinggalkan komentar