Salah satu hal yang bikin aku betah tinggal di negeri Pangeran William adalah pengamennya. Pengamen yang bernyanyi ceria di pagi hari, artis jalanan yang jenaka pas makan siang, dan lagu pengamen lainnya yang bisa bikin aku lupa akan keletihan sehari penuh. Orang-orang ini adalah artis-artis hebat (entah itu karena keren, terampil, atau sekadar lucu) yang “bayarannya” lebih murah daripada artis di layar kaca, yang lebih bisa didekati, yang lebih “manusiawi”, dan seru-seru. Orang-orang ini adalah mereka yang ditemui di pengkolan jalan, di pinggir got, dan yang paling banyak aku temui: di dalem stasiun kereta.
The Tube, sarana perkeretaan bawah tanah kota London, adalah salah satu ikon kota London — seperti Routemaster Bus, Black Cab, dan gedung-gedung tua di London. Kata orang, “Kamu belom bener-bener ngerasain London kalo belom pernah nyoba jadi sarden di dalam sebuah kereta bawah tanahnya Underground Tube.” Mungkin lebih daripada semua sarana transportasi di London, The Tube ini yang paling “London”. Gelap, sumpek, sumuk, sempit. Maklum, banyak bangunan bawah tanah yang udah berdiri sejak jaman dulu banget (jaman jadul dulu), yang kesannya serem dan angker, dan belum dimodernisasi (bagian dari upaya melestarikan peninggalan budaya, kayaknya).
Tapi, walau begitu, seperti London, stasiun bawah tanah (Tube Station) ini bikin ketagihan. Kayaknya walau sudah sering bilang: gak mau lagi deh gue naek kereta, kayaknya tetep seru, dan tetep pengen nyeret semua temen yang datang bertandang ke London untuk naek Tube.
Selain menjadi sarana untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain, banyak Tube Station yang jadi sarana hiburan. Pemberi hiburan ini semuanya adalah pengamen, atau buskers. Istilah buskers (pengamen), atau busking (mengamen) ini istilah yang khas banget ke-Inggrisan-nya, yang jarang ditemukan di tempat lain (di Amerika atau di tempat lain, lebih dikenal dengan sebutan street performers, atau artis/musisi jalanan).