Ngamen: Didengar, Dibayar, Terkenal

11 11 2006

Salah satu hal yang bikin aku betah tinggal di negeri Pangeran William adalah pengamennya. Pengamen yang bernyanyi ceria di pagi hari, artis jalanan yang jenaka pas makan siang, dan lagu pengamen lainnya yang bisa bikin aku lupa akan keletihan sehari penuh. Orang-orang ini adalah artis-artis hebat (entah itu karena keren, terampil, atau sekadar lucu) yang “bayarannya” lebih murah daripada artis di layar kaca, yang lebih bisa didekati, yang lebih “manusiawi”, dan seru-seru. Orang-orang ini adalah mereka yang ditemui di pengkolan jalan, di pinggir got, dan yang paling banyak aku temui: di dalem stasiun kereta.

The Tube, sarana perkeretaan bawah tanah kota London, adalah salah satu ikon kota London — seperti Routemaster Bus, Black Cab, dan gedung-gedung tua di London. Kata orang, “Kamu belom bener-bener ngerasain London kalo belom pernah nyoba jadi sarden di dalam sebuah kereta bawah tanahnya Underground Tube.” Mungkin lebih daripada semua sarana transportasi di London, The Tube ini yang paling “London”. Gelap, sumpek, sumuk, sempit. Maklum, banyak bangunan bawah tanah yang udah berdiri sejak jaman dulu banget (jaman jadul dulu), yang kesannya serem dan angker, dan belum dimodernisasi (bagian dari upaya melestarikan peninggalan budaya, kayaknya).

Tapi, walau begitu, seperti London, stasiun bawah tanah (Tube Station) ini bikin ketagihan. Kayaknya walau sudah sering bilang: gak mau lagi deh gue naek kereta, kayaknya tetep seru, dan tetep pengen nyeret semua temen yang datang bertandang ke London untuk naek Tube.

Selain menjadi sarana untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain, banyak Tube Station yang jadi sarana hiburan. Pemberi hiburan ini semuanya adalah pengamen, atau buskers. Istilah buskers (pengamen), atau busking (mengamen) ini istilah yang khas banget ke-Inggrisan-nya, yang jarang ditemukan di tempat lain (di Amerika atau di tempat lain, lebih dikenal dengan sebutan street performers, atau artis/musisi jalanan).

Pertama kali tau ada pengamen di Tube Station itu dari temenku. Waktu itu adalah jalan-jalan pertama pake kereta (yang untungnya pas jam-jam orang masih pada di kantor, jadinya nggak sumpek-sumpek amat) dan temenku mulai buka-buka tas untuk nyari uang receh. Pas ditanya buat apa, dia bilang: “Siap-siap buat ngasih ke buskers. Biasanya buskers di Tube Station bagus-bagus.”

Mungkin gara-gara terlalu terbiasa sama pengamen di Indonesia, aku menganggap pengamen di sini juga sama: nyanyiin lagu pop atau lagu pop rock (kalo di Indonesia kayak lagunya Radja, Iwan Fals, gitu-gitu kali ya?). Bosen dong? (Pengalaman di dalem bis kota di Jakarta ya gitu. Sehari bisa ngedengerin lagu yang sama dinyanyiin oleh pengamen-pengamen yang berbeda).

Kaget juga pas keluar dari kereta dan ngedenger ada alunan musik kayak jazz. Pertama, aku kira itu sejenis musik rekaman yang dikumandangkan pake speaker. Wah, tau-taunya di ujung tangga berjalan ada orang berkostum kucing (kayak Sylvesternya Bugs Bunny) yang lagi maen terompet. Wah, keren. Temenku cuma nyengir-nyengir kuda sambil ngelempar uang receh ke tempat yang udah disediain sama kucing itu. Si manusia kucing sih cuek, terus bermain, tanpa sebentar pun berhenti.

“Yang ini kayaknya ilegal deh. Bentar lagi pasti dikejar-kejar. Walau pun begitu, pasti besok dia bakal mangkal lagi di sini. Lagunya asik,” temenku bilang.

“Lah? Bukannya semua pengamen ilegal?”

Licensed Buskers: Audisi jadi Pengamen Idol

Licensed busking was originally launched as a trial in 2003, with 25 pitches throughout 12 key Tube stations. The scheme’s success won it a permanent place on the network, and more than 25 stations now carry pitches.Today, nearly 400 buskers, relying solely on donations from customers, provide over 3,000 hours of live music weekly. ( Busking, TfL.gov.uk)

Sebagai tempat yang nggak pernah sepi, Tube Station secara teori bisa menjadi lahan emas buat pengamen seInggris. Selain duit, ada kemungkinan bisa jadi orang terkenal. Makanya, untuk mengurangi kehebohan dan pertandingan antar pengamen untuk rebutan tempat ngamen, pihak Transport for London akhirnya mengadakan audisi dan pengaturan yang lebih oke: buat penyelenggara, buat pengamen, dan buat yang ngedenger.

Capek banget kan kalo sepanjang jalan ada puluhan pengamen yang lomba kenceng-kencengan maen lagu. Yang ada, bukannya bagus malah jadi kacau.

Dengan sistem audisi, juga dengan penempatan yang diatur rapi, serta penjadwalan, kebanyakan pengguna sarana bener-bener bisa menikmati hiburan yang diberikan. Para “juri” Pengamen Idol ini juga kayaknya memperhatikan genre musik yang disajikan. Jadi asik lah, nggak selalu dan selamanya pop doang, atau Radja-wannabe doang (emang ada gitu?). Ada yang beraliran musik klasik lengkap dengan gaun panjangnya (dengan flute, biola atau basnya), ada yang nge-jazz (biasanya saxophone atau terompet, atau piccolo), ada yang berirama tradisional (pake bongo, steel drums, atau seruling, kayaknya ada yang pake bagpipes juga), dan tentu aja vokalis-vokalis lainnya. Ada juga yang kualitas nyanyinya nggak serius, tapi lebih ke comedy singing… Yang ini pun lucu. Lumayan lah, jadi nggak cuma sumpek dan panasnya doang yang dapet.

There are a wide variety of buskers in London Underground stations. You get the geeky herbert playing music by The Shadows over a backing tape, numerous Bob Dylan wannabe folkies, saxophonists, flautists, classical violinists and more. The quality is usually pretty good but, if they overplay their pitch, a whole month of the same tune can force commuters to seek other routes to work or instil deep-rooted psychosis. (The London Underground, BBC.co.uk)

Mungkin waktu pertama-pertama mulai (sekarang juga kadang-kadang masih), lagu yang dimainkan kurang bervariasi dan kadang ngebosenin. Tapi keliatannya, sekarang para buskers ini juga dikasih latihan dan dikasih penyuluhan gimana caranya biar orang-orang tetep mau mendengarkan mereka dan bukannya ngusir orang dari stasiun itu.

Selain kesempatan untuk dilihat, didengar dan dibayar, si pengamen juga dimodalin untuk masuk ke dapur rekaman untuk bikin CD yang kemudian dia jual ketika dia ngamen. Lumayan tuh, kalo ngedenger penyanyi yang disukai, bisa langsung beli CDnya (yang murah), dan mungkin bisa pamer ke temen-temen kalo si penyanyi suatu saat terkenal: “Gue dong… udah punya lagunya sejak dia masih ngamen dan ga punya apa-apa”.

Menjadi Terkenal: Berlomba Mengasah Bakat dan Kreativitas
Jadi Pengamen yang “terpilih” nggak selamanya berarti si busker itu nggak akan tergusur. Audisi yang dilangsungkan terus menerus ya berarti: “You snooze, you lose”. Ga ada yang boleh lengah. Sama aja lah kayak penyanyi: jelek dikit, ketinggalan jaman sedikit, langsung kena depak. Semua kan mau kebagian dapet duit. Atau, kalo lagi beruntung dan emang berbakat… mau dong dilirik produser.

Udah banyak Pengamen Idol yang dilirik untuk diorbitkan. Salah satu contoh yang paling baru adalah penyanyi sopran Angelina Kalahari dan gitaris (ciyeh) Richard Stevenson.

Two talented London Underground (LU) buskers are to leave their Tube pitch to go and perform at the famous concert venue St James’s Church in Piccadilly on 20 October 2006. Soprano and Underground musician Angelina Kalahari accompanied by fellow busker and guitarist Richard Stevenson will perform alongside Reading University Piano Professor Elizabeth Dockrell-Tyler. (Buskers’ success reaches biblical heights, TfL.gov.uk)

…licensed buskers have attracted international media interest and are regularly booked for events and recording sessions. In 2005 buskers also supported the Make Poverty History campaign by taking part in Busk8, a concert which coincided with the global Live8 event. (Busking, TfL.gov.uk)

Dan, tak lupa pengalaman Emily de Peyer, seorang jurnalis mencoba menjadi Pengamen Idol sehari di King’s Cross Station, salah satu stasiun utama di Kota London.

A nice man approaches – will I play in his cafe on Sundays? – I take his number and promise to call. And after an offer to join a band and another to perform at a wedding I start to forget I am an amateurish fraud. Bring on grade four. (Badly Drawn Boy? He’s an Amateur, Guardian Unlimited)

Ada yang tertarik? Untuk informasi mengenai busking, dan gimana menjadi busker yang baik, di Tube Station maupun di tempat lain, coba ke sini.

Indonesian Pengamen Idol
Ternyata para artis jalanan ini punya kualitas yang keren banget, atau paling nggak punya potensi yang hebat banget kalo diasah dan dibimbing. Emang sih, ada aja pengamen yang al fresco, yang besar sendiri. Tapi banyak pengamen yang juga berhasil menjadi lebih dari “sekadar pengamen” lewat penyuluhan, pelatihan, dan peningkatan profesionalisme.

Acara idol-idolan udah banyak di Indonesia, kebanyakan (hampir semua) hasil impor (mencontoh) acara yang udah sukesih di luar negeri. Kapan Indonesia mengimpor acara Indonesian Pengamen Idol?

Singer Olly Knights said they had been “blown away” by the standard of buskers…. “There’s nothing better than coming home on a really horrible day than hearing someone singing a really beautiful song,” he said. (The New Sound of the Underground, BBC.co.uk)

Panggungnya udah ada: di halte busway, di stasiun monorel (nantinya), dan di jalan-jalan. Mungkin penata kota dan penata infrastruktur nantinya akan bisa (siapa tau nih ya) merasa pengen juga ah ngasih lahan untuk para penghibur ini. Siapa tau ada niat meremajakan kota biar Indonesia juga punya tempat seperti Broadway, atau Times Square atau apalah kayak gitu. Tempat di mana seni juga bisa ikut diikutsertakan dalam kehidupan sehari-hari.

Asik lho. Aku sih pengen.


Tindakan

Information

3 tanggapan

22 11 2006
Mira Marsellia

hiks..kok aku jadi pengen ke negara Om William ini yah? *guling-guling menangis*

20 12 2006
isdah

jade pengen mampir ke sono… *cek kantong*

3 02 2007
illinois i pass

illinois i pass

SomegifttoME 388659 illinois i pass info

Tinggalkan komentar