Hiburan Murah Meriah (tapi belum tentu selamat): Gosip & Nieuwenhuys

6 12 2006

Jauh dari rumah, menggigil kedinginan gara-gara pemanas di asrama nggak memadai sama sekali, dan secangkir kopi panas. Tambah lagi seorang dua orang teman seperantauan. Bener-bener jadi resep yang pas buat ngegosip. Kata temenku, orang Indonesia demen banget ngegosip, apalagi ngegosipin orang lain. Dan di negara orang bule, kayaknya minat ngegosip malah jadi lebih besar lagi. Satu, karena kehabisan akal mau ngapain lagi (bila satu dua orang rantau berkumpul dan bingung mo ngomongin apa); kedua, karena kebanyakan orang bule yang digosipin kan nggak ngerti bahasa Indonesia (bagusnya berbahasa yang nggak pasaran).

Ternyata nggak cuma orang Indonesia aja kok yang doyan ngegosip. Orang Yunani juga kayaknya suka banget ngegosip (seperti yang ditonton di felem My Big Fat Greek Wedding). Orang Belanda juga suka kok ngegosip. Apalagi orang Belanda kolonial dulu. Mungkin, kebiasaan kita ngegosip ini juga dapet dari para Eropa yang nyambangi Indonesia pada waktu itu kali ya.

Rouaffer pun bertanya pada dirinya sendiri: “Apa yang dibicarakan oleh orang-orang di Hindia? Mereka berbicara tentang orang lain, atau tentang kondisi di Hindia, dan semuanya diucapkan dengan keterusterangan yang terkadang sangat mencengangkan.” Keterusterangan ini memungkinkan mereka untuk mendramatisir dan membuat perubahan-perubahan kecil atau besar pada keadaan sekitar atau peristiwa yang menjadi dasar cerita itu…. “Monster gosip berkepala banyak,” kata Daum, bebas berkeliaran di kantor, rumah, dan perkumpulan. Apabila seseorang mempercayai apa yang ditulis di dalam novel-novel Hindia dan tulisan-tulisan lain sepertinya, orang benar-benar menghabiskan banyak waktu untuk berbicara, merepet, dan bergosip, terutama di Hindia di awal abad itu. (Nieuwenhuys, Mirror of the Indies)

Tapi, apalagi sekarang yang namanya gombalisasi globalisasi, udah semakin marak… udah nggak bisa sering-sering lagi ngegosipin orang (apalagi ngeghibah, yang emang nggak boleh berdasarkan hukum agama. Ga boleh meyebarkan kabar bohong tentang orang lain, dan ga boleh ngegunjing yang nggak-nggak, otre?). Ya, aku dan temanku bukanlah orang Indonesia satu-satunya di London, dan bukan juga orang yang bisa berbahasa Indonesia satu-satunya di London. Dan bahkan banyak loh bule-bule yang ngerti bahasa Indonesia.

Beberapa tempat di mana sebaiknya kita tidak bergosip kencang-kencang (atau paling nggak ngerem-ngerem dikit):

  1. Tempat belanja/ngumpul: Oxford Street, Bond Street, Piccadilly Street, dan mungkin sampe ke Chinatown, Tottenham Court Road, dan Leicester Square. Juga Oriental City di Colindale. Oriental City ini njual Teh Botol! Jadi nggak mungkin nggak ada orang Indonesia yang ke sini.
  2. Restoran-restoran masakan Indonesia (atau Malaysia).
  3. Hendon (atau kalo diplesetin jadi Hendonesia): tempat di London yang banyak orang Indonesianya. Sangat dekat dengan Brent Cross Shopping Centre (tempat belanja mirip mal) yang banyak dikunjungi orang Indonesia juga.
  4. Tempat-tempat yang ada hubungannya sama Kedutaan Indonesia: Bond Street (Grosvernor Square) yang adalah kantor Dubes (Kedubes) dan Konsulat, juga sebrang-sebrangan sama Kedubes Amrik. Juga East Finchley yang adalah daerah rumah Dubes Indonesia.
  5. SOAS (School of Oriental dan African Studies), bagian dari University of London yang khusus tentang Asia dan Afrika… dan tentu saja termasuk di dalamnya tentang Indonesia — budaya, politik, sosial dan tentu saja… bahasanya.

Kapok deh ngegosipin tentang orang-orang yang tampak seperti nggak tau bahasa Indonesia tapi ternyata bisa. Kalo sekedar “wah, cowok itu cakep banget ya…” mah mungkin masih nggak apa-apa ya, karena kan sifatnya memuji… dan siapa sih yang nggak suka dipuji?

Tapi kalo ngegosipin kayak kejadian waktu itu di mana temenku (cowok), bilang pada temennya (cowok juga), “Wah, lihat, ada cowok lagi ngelonin cowok.” Padahal jelas-jelas mereka sedang ada di Old Compton Street di Soho. Dan parahnya lagi, kedua cowok yang saling kelon-kelonan itu kemudian menoleh dan berkata “Lah, situnya bencong-couple, bawa anak lagi!” Gimana gak kaget hayo? Yang tadinya dikira pasangan bule, ternyata adalah sepasang pria Indonesia tulen yang kebetulan aja berkulit putih dan berambut pirang (kayaknya diwarnai gitu rambutnya). Dan lebih parah lagi, temenku — yang emang pada waktu itu juga pake sweater pinjaman yang ketat dan berwarna pink — itu emang lagi momong anaknya (yang dilahirkan oleh istrinya), dan sang istri sedang beli kue di salah satu cafe di Old Compton Street itu. Jadilah dua temenku (yang cowok-cowok itu) dikira pasangan homok beranak satu.

Nah, karena kejadian itu, aku dan banyak teman-teman lain jadi males juga ngegosipin orang. (Emang ga boleh). Dan lebih berhati-hati kalo mau ngomongin orang. Biasanya ditunggu dulu sampe kembali lagi ke kost atau ke asrama. Dan biasanya sih setibanya di asrama udah lupa deh apa yang mau diomongin. Jadi ya, kejadian itu ada hikmahnya juga. Aku jadi lebih ngerti kenapa orang bilang lidah itu nggak bertulang dan bisa jadi sarana menjatuhkan orang dan diri sendiri (belom lagi jadi sarana penambahan dosa yang cepat).

Tapi kadang-kadang masih kelepasan juga. Ketika musim dingin telah tiba, dan ketika dua atau tiga orang rantau bertemu, duduk di pinggir jalan sambil ngeliat bis dan taksi hitam lalu lalang, dan sambil nyeruput kopi panas… kadang-kadang keluarlah “Cowok yang duduk di taksi itu cakep ya?” atau “Ibu itu kok tahan ya dingin-dingin gini cuma pake singlet…”

Omong-omong tentang Nieuwenhuys, iseng-iseng aku nerjemahin bagian pendahuluan dari bukunya Oost-Indische Spiegel. Ya, ya, aku lagi ga ada kerjaan… apa lagi setelah aku nggak bisa online di YM (Duh bahasa apa pulak ini), dan perinternetan di rumah kembali ke jaman batu lagi. Nggak kok, aku ga nerjemahin dari bahasa Belanda, soalnya aku ga ngerti bahasa Belanda. Tapi dari terjemahan Bahasa Inggrisnya, yang diterjemahkan oleh Van Roosevelt dan diedit oleh Beekman (Judul Inggrisnya jadi Mirror of the Indies). Kalo ada yang iseng-iseng mau baca, dan mau memperbaiki terjemahan aku yang tentu aja hancur-hancuran bisa mengorbankan benwit untuk ngeklik ke:

*buru-buru kabur*