Resolusi dan Road Trip

5 01 2007

Selamat tahun baru 2007! Semoga tahun baru ini menjadi lebih baik lagi (walaupun di awal tahun sudah banyak tragedi yang menimpa bangsa Indonesia (dan negara lain)).

Untuk aku pribadi, entah sejak kapan aku ngikut banyak orang di dunia ini bikin resolusi (atau janji pada diri sendiri). Biasanya, isi dari janji-janji ini terdengar sangat bagus dan sangat positif, tetapi sangat sulit dikerjakan. Tapi memang begitu kan, tujuan membuat resolusi itu? Untuk menjadi lebih baik lagi?

Tahun 2001 adalah tahun di mana aku membuat banyak janji: berjuang untuk bisa lulus tepat waktu dan menghadiahkan wisuda buat ortu, berjuang untuk jadi orang yang lebih baik dan lebih sabar lagi, berjuang untuk mejadi karyawan yang baik, berjuang untuk menjadi teman yang baik, berjuang untuk menjadi orang yang lebih saleh (ciyeh), nggak pelit dan nggak sombong, pokoknya semua janji-janji standar yang sampai saat ini masih belum jelas apakah saya sudah menjadi orang itu atau belum.

Ada satu janji yang agak khas tahun 2001: Berjuang untuk bisa pergi road trip. Euh, mungkin bukan road trip secara harfiah kali ya, soalnya kan road trip itu artinya
mengadakan perjalanan mengunakan mobil. Padahal, aku pasti nggak akan berpetualang dengan mobil soalnya nggak bisa nyetir (dan ga punya SIM Inggris gitu). Kecuali kalo ada yang mau nyetirin. Jadi, mungkin sebutannya harusnya: “berpetualang” kali ya? Tapi biar keren… saya tetep akan menyebutnya sebagai road trip. Lagiankan memang perjalanannya (trip) itu dilakukan sepenuhnya lewat jalan darat (road). *ngeles*

Aku baru benar-benar mengerti konsep ‘berpetualang’ ketika bertemu dengan segerombolan anak yang gila jalan-jalan, yang menyamar menjadi anak asrama. Kayaknya asrama itu cuma jadi tempat singgah mereka kalau sedang tidak berpergian. Mereka seperti fatamorgana atau penampakan. Setiap akhir pekan tiba (dan akhir pekan bisa tiba seawal hari rabu), orang-orang ini pasti akan langsung menghilang. Mereka baru akan kembali minggu malam (atau senin subuh malah). Kadang-kadang, mereka terlihat menyeret-nyeret tubuhnya yang letih, beserta backpack yang penuh cucian kotor (dan oleh-oleh) ke dalam kelas pertama di senin pagi (pagi-pagi buta! emang kadang-kadang dosen-dosen tidak berperikemahasiswaan).

Yang mengherankan, walau capek (dan mungkin bokek), mereka tampak bahagia dan siap mengulanginya lagi pada hari rabu terdekat. Apa enaknya ya? Saya sih suka kalau mereka pergi jalan-jalan, karena sekembalinya mereka dari jalan-jalan pasti ada oleh-oleh yang aneh-aneh dan foto-foto yang bagus-bagus. Tapi untuk pergi sendiri?

Kapan aku bisa pergi? Kalo nggak kuliah, kerja. Kalo nggak kerja dan nggak kuliah, ada latihan drum corps. Selain itu, hal yang lebih penting lagi… Mau dibayar pake apa? Kalo siluman rubah dari Jepang, atau sundelbolong dihadapkan dengan sate, sih bisa ngubah daun jadi duit. Nah… saya gimana dong?

Tapi akhirnya… April 2001, saya resmi bisa melakukan road trip pertama dalam hidup ini! Road trip yang akan menentukan apakah akan ada road trip kedua, ketiga, dan seterusnya! Road trip yang akan menentukan apakah satu saja sudah cukup membuat saya jera… Tapi dari awal pun, acara ini terlihat sangat mengenaskan.

Pertama, road trip ini bisa terselenggara (ciyeh) karena mendapat libur dari kantor, dan karena memang hari libur nasional menjelang Paskah. Rencananya, aku berangkat hari Jumat setelah misa Jumat Agung. Tapi baik nggak sih untuk berpergian di Pekan Suci Paskah? (makanya diiringi doa: semoga Paskah ini bisa nemu gereja dan minta maaf yang sebesar-besarnya, supaya saya jangan dikenai tulah dari Tuhan). Hmmm.. kadang-kadang aku merasa Tuhan pasti sangat marah pada anaknya yang satu ini. Kedua, road trip diadakan dengan dana yang seharusnya dipakai untuk membeli tiket pulang ke Indonesia (karena itu diiringi doa: semoga saya dapat pekerjaan tambahan untuk menutupi biaya ini!).

Ketiga, saya pergi sendiri! Sedih banget nggak sih. Yang namanya road trip itu bukannya harusnya dengan teman-teman? Tapi dasar teman-teman asrama tidak berperikeindonesiaan, mereka semua ingin menghabiskan libur Paskah di benua induk Eropa. Sebenernya sih aku diajak ikut serta… Tapi.. tapi!!! Berbeda dengan mereka yang orang Amerika dan orang Inggris yang tinggal berenang menyebrangi Selat, saya harus berjuang mendapatkan visa Schengen. Dan untuk mendapatkan visa Schengen itu nggak cukup sebulan kayaknya deh. Duh! Tau nggak sih betapa susahnya mendapat visa Schengen? Dan lagi.. ke luar negeri? Mwahahahahal sekali! Sepertinya sih harus menabung tujuh turunan dulu, atau paling nggak mendapatkan lebih dari satu pekerjaan tambahan deh.

Tapi untunglah teman-teman di kantor baik hati dan memberikan tips road trip murah dan baik.

Menuju ke sana

  1. Gunakan Young Person’s Railcard apabila hendak berpergian naik kereta api. Buat yang masih muda, di bawah 25 tahun, kartu ini bener-bener ngebantu banget, karena bisa ngedapetin diskon lebih dari 30% untuk perjalanan kereta standar (alias di atas jam sibuk). Buat yang udah tua, asal masih status mahasiswa juga bisa daftar untuk minta kartu ini. Menolong banget deh.
  2. Berpergian bersama-sama dan gunakan GroupSave. Buat yang berpergian bersama teman-teman (tidak seperti saya… huhuhu), nggak punya Young Person’s Railcard pun tak mengapa. Karena dengan berpergian bersama, diskonnya pun bisa lebih dari 30%. Dan lebih seru lah kalo pergi bareng-bareng… tapi apa daya, euy.
  3. Gunakan National Express, atau jenis-jenis bis gitu. Kereta pun kadang-kadang masih mahal, dan naek bis emang lebih murah. Lagian juga pemandangannya lebih seru kalo naek bis deh, kayaknya. Kalo naek kereta, biasanya yang keliatan cuma hutan atau semak-semak doang, kalo naek bis, seringkali bisa ngelewatin pemukiman orang dan kadang-kadang bisa ngeliat ke dalem rumah orang juga loh! (Eh.. terdengar parah deh).
  4. Nebeng mobil orang, atau hitchhiking. Kalau ada temen, kenalan, saudara, cem-ceman, dan lain-lain, yang bisa dipaksa untuk ngasih tebengan… Oh! asik juga. Walaupun mungkin tidak sampai tempat tujuan, tapi lumayan menghemat. Asal nggak diturunin di jalan tol aja sih kayaknya nggak kenapa-kenapa. Tapi kalo hitchhiking… Hmm.. baru pernah sekali, dan itu adalah pengalaman yang lucu (karena pas orang yang ditebengin baik hati), dan dag-dig-dug (takut diculik, tapi untungnya mungkin bentuk-bentuk macem aku ini gak cocok dengan profil tahanan dan emang pas yang ngasih tumpangan juga orang baik hati).
  5. Kalo berpergian keliling Eropa (seperti teman-teman saya yang petualang itu), gunakanlah Eurail atau Europass atau sejenisnya. Dan pesawat murah, seperti EasyJet atau Ryan Air. Tapi… waktu itu… membayangkan aja udah sakit hati duluan. Dan tentu saja, punya kartu ISIC pun sangat membantu (walau sebenernya lumayan mahal juga tuh kartu).

Menginap di sana

  1. Di hotel atau hostel atau homestay. Di buku petunjuk perjalanan, macamnya Rough Guide, atau Lonely Planet, atau Shoestring Traveler, banyak catatan-catatan mengenai tempat-tempat penginapan murah dan baik. Kalau misalnya perjalanannya adalah perjalanan al fresco, bisa aja nanya-nanya di Tourist Information Point (TIP) yang biasanya nongkrong di tengah kota (town centre) atau di stasiun-stasiun. Atau ya, di Internet. Atau di buku telepon.
  2. Di tempat-tempat ibadah atau keagamaan lainnya. Kadang-kadang gedung-gedung ibadah, atau tempat-tempat agama ada juga yang ngasih penginepan buat para perantau. Di Inggris ya tentu aja lebih banyak kapel, gereja, atau penginapan yang dikelola oleh misionaris, atau mesjid kota, atau semacemnya lah. Biasanya sih murah dan ya kecil gitu. Sederhana dan mungkin ada aturan jam malamnya. Yang ini biasanya mesti diminta jauh-jauh hari. Dan kalaupun mereka nggak punya ruang atau kamar, kalau misalnya kita terdengar/terlihat baik hati dan tidak jahat, mungkin mereka bisa membantu mencarikan tempat menginap.
  3. Rumah temen. Yang ini sih… gimana ya? Kadang-kadang punya teman di daerah yang dikunjungi itu asik juga, karena bisa buat tempat nebeng. Tidur di ruang tamunya, misalnya. Ini juga sebaiknya minta ijin dari jauh-jauh hari. Kasian kan kalo kaget.
  4. Rumah orang tak dikenal. Untuk tipe-tipe petualang akut, yang pelit (karena ga keluar sepeser pun), yang berhati berani, atau yang terdampar. Seperti salah seorang temen asramaku. Dia ini tipe-tipe orang yang percaya akan daya tariknya, dan bisa aja merayu cowok-cowok lokal berhati labil (atau cewek-cewek berhati baik) untuk ngijinin dia nginep di rumah mereka. Tapi… rumah orang tak dikenal? Wah, kalo aku sih pikir-pikir dulu. Kalo nggak kepepet banget kayaknya… Serem deh. Salah-salah.. bisa celaka kan ya?

Akhir kata… akhirnya! Road Trip pertamaku! Diawali dari Oxford yang kota pelajar itu, dilanjut ke Warwick yang terkenal dengan kastilnya, sampai ke Stratford-upon-Avon yang terkenal dengan Shakespearenya. Tapi itu curhat untuk hari lain kan, ya?

*mingkem lagi*


Tindakan

Information

Satu tanggapan

11 03 2007
chiank

ditunggu cerita road tripnya :)

Wah.. kudu ngubek-ubeh buku catahar nih… Dah lupa detilnya soalnya. *otak penyimpanan jangka pendek sahaja*

Tinggalkan komentar