Nostalgila: UEFA Champions League 2005

4 03 2007

Tadinya pengen nulis tentang lakon “Putri Tidur” dari sendratari balet Rusia yang baru kemaren (lihat postingan sebelom ini). Tapinya, pas baca blognya Om Hedi jadi tiba-tiba teringat suatu malam yang sangat mengesankan. Aku sendiri hampir lupa kalo malam itu adalah malam final UEFA Champions League, saking hebohnya dikejar-kejar tengat skripsi dan urusan sekolah lainnya. (Jadi ingat rasa pengen mati yang sangat mendalam dan membekas).

Dalam perjalanan pulang (naek The Tube, seperti biasa), sebenernya udah merasa ada yang aneh deh. Biasanya mah keretanya penuh sesak dengan orang, kali ini kok kayaknya rada kosong. Selain itu, kawan-kawan penumpang itu kok ya tampangnya pada stres dan tegang semua. Kesannya seperti hening sebelum badai begitu deh.

Keluar dari stasiun Finchley Central, kecamatan Barnet, aku menyebrangi jalan dan tidak langsung pulang ke kostan — malah pergi ke toserba untuk belanja mingguan. Dan saat itu aku baru sadar hari apakah itu. 25 Mei 2005, final Champions League. Semua pub, bar, dan tempat minum-minum lainnya penuh sesak dengan orang-orang berseragam Liverpool F.C. Ada juga sih yang cuma pakai kaos merah dengan selendang Liverpool, atau berselempangkan bendera St. George. Tapi ada juga yang sampai satu muka, dan kulit lainnya yang tidak ditutupi kain pakaian ditato merah dengan gambar Bendera St. George atau gambar Burung Aneh Liverpool.

Toserba pun penuh dengan manusia yang memborong bir (baca: minuman kebangsaan) berpeti-peti untuk diminum bersama di depan televisi. Jalanan penuh dengan orang hilir mudik berteriak-teriak “England! England!” atau menyanyikan “You’ll Never Walk Alone” dengan nada yang bisa mbikin Simon Cowell bunuh diri dengan menelan seribu satu duren.

Padahal Barnet (yang klub sepakbolanya sebenernya nggak jelek-jelek amat juga) sangat jauh sekali dari Liverpool (jauh banget, tiket kereta juga lumayan mahal), tapi untuk malam ini saja, sepertinya perselisihan antar klub dikesampingkan. Padahal kan kesetiaan seorang fans sepakbola Inggris pada klubnya itu kan benar-benar gimanaaaaa gitu. Kalau perlu, mereka akan lebih getol membela klubnya daripada membela negaranya kalo pecah perang (mungkin lho ya). Dan kayaknya, mengelu-elukan klub yang bukan klubnya itu adalah dosa besar. Contohnya saja, temanku yang fans berat Tottenham Hotspurs hampir tidak bisa duduk seruangan dengan mertuanya yang fans berat Arsenal.

Tapi untuk malam ini, sepertinya fans dari berbagai klub (aku lihat dua tetangga yang biasanya saling lempar cacian, tentang sepakbola tentunya) berkumpul bersama dan menyatakan gencatan senjata.

Tak lama kemudian, aku berjalan pelan-pelan melawan arus orang yang mulai memadati semua tempat berkumpul yang ada untuk kembali ke kostan. Kaget deh! Jalan di depan kostanku pun udah penuh dengan orang. Ada yang mengeluarkan televisi besar miliknya, ada yang menyumbangkan kabel superpanjang, ada yang menawarkan untuk mencolokkan kabel ke listrik rumahnya, ada yang membagi-bagikan bir, dan semuanya keluar dari rumah mereka membawa kursi lipat. Layar tancep kagetan rupanya.

“Ayo! Mari kita nonton final bareng-bareng!” Anak tak dikenal menarikku ke arah kerumunan.

Dengan dalih ingin mengambil kursi lipat, aku cepat-cepat melarikan diri.

“Cepat ya! Sudah hampir dimulai nih!” teriak anak itu.

Aku buru-buru kabur dan mengunci diri di dalam kostan dan bersikukuh untuk tidak menonton acara final ini. Tapi apa daya? Ketikan skripsi dan buku referensi akhirnya dipinggirkan demi menonton acara yang kelihatannya heboh itu. Ternyata, memang heboh!

Dan tak kalah hebohnya adalah teriakan kemenangan yang sepertinya membahana ke sepenjuru kota, ketika Liverpool menang adu penalti. Semuanya berteriak, menangis, bernyanyi, berlutut dan berdoa syukur, dan tidak sedikit yang melepaskan mercon. Benar-benar seperti sepuluh perayaan tahun baru dijadikan satu. Semua pintu diketuk, dan semua orang membagikan salam dan ucapan selamat dari satu kepada yang lainnya.

Dan keesokan harinya pun, semua orang terlihat super-ramah. Yang biasanya tidak pernah menyapa, kali ini sangat antusias sekali berkata “Good day! We won!” Ya, benar-benar hari yang indah dan baik. Aneh juga melihat bagaimana sepakbola bisa menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang, yang biasanya berseteru, yang biasanya nggak pernah bisa tahan seruangan barang semenit pun. Mungkin benar kata orang: sepakbola, apalagi di Inggris, adalah agama yang sebenarnya.


Tindakan

Information

5 tanggapan

4 03 2007
Mira

Wah jadi pingin ada di Inggris ketika semua orang ramah dan bagi-bagi bir!

Hihihihi… Iya tuh… bener-bener aneh deh. Ke mana saja melangkah ada aja yang nawarin nonton bersama.Biasa mah, boro-boro. Jadi seneng juga sih. Sebenernya sih berharap ada yang bagi-bagi wine.

4 03 2007
Hedi

kata pendukung Liverpool, you’ll never walk alone…tapi kamu justru merasa sendirian hehehe

Itulah, pertama-pertama sih ga pengen nonton dan berbaur karena ada skripsi yang kudu diselesein buru-buru. Tapi, akhirnya hihihihihi.. Harusnya mah nonton bareng-bareng ya? Ngerasain nonton bareng di sono. Eh, tapi dulu pas Piala Dunia yang di Korea/Jepang itu pernah juga sih, nonton rame-rame pagi-pagi buta. Langsung mengantuk tapinya… Ternyata aku bisa juga tidur berdiri hihihihihihi

11 03 2007
chiank

:)

terakhir gua nonton rame2 di cafe itu pas Liverpool – MU tanggal 4 kemaren, sepanjang pertandingan diam aza..di sepet mulu ama temen gua.karena MU diserang mulu, apalagi pas scholes kartu merah..hopeless deh..berharap seri..
tapi pas o’shea nyetak goal di menit terakhir…langsung happy banget..dan temen gua jadi pelampiasan kegembiraan gua :D

alhasil malamnya tidur dengan nyenyak :)

Kalo menang aja… nyenyak deh. *masih teringat yang rasanya susah tidur kalo timnya kalah*

4 05 2007
vnz

Bagi Bir nya dong Hen..

5 05 2007
elmogran™

HEDOOP MU!
*cuek*

Tinggalkan komentar