Pira: Beruang Kutub Polisterin yang Setia

15 03 2007

piraimutIni Pira, dia ini hadiah dari Bapak ketika aku naik kelas enam SD. Pira itu singkatan dari “Putih Merah” (aneh ya?). Katanya sih hadiah kenaikan kelas. Emang aku waktu duduk di kelas lima ada masalah sedikit dengan acara naik-naikan kelas. Nilaiku entah mengapa jebol-jebol kabeh. Ini pasti gara-gara IPA yang mulai susah, yang mulai pake menghitung titik api cermin cekung cembung segala. Aku kan lebih suka IPA yang biologi, daripada IPA yang matematikaan begitu. Tapi, seneng banget, soalnya Bapakku itu jarang banget ngasih hadiah. Jarang banget. Dari sejak memberi Pira sampai sekarang, sepertinya nggak ada hadiah lagi. Tentu saja kesediaan Bapak membesarkan aku, menyekolahkan, memberi makan, dan kost gratis adalah hadiah tersendiri. Tapi, Pira ini berbeda. Mungkin kalau aku disuruh memilih hanya satu saja benda (dan yang lain harus diserahkan), aku akan memilih Pira. Alasannya banyak, tapi alasan yang paling kuat adalah karena Pira adalah hadiah dari Ayah.

pirahororSekarang, sudah lebih dari 14 tahun Pira hidup bareng aku. Mulai dari ketika bulunya masih lengkap, sampai sekarang yang udah botak di mana-mana. Pira itu kalau bisa ngomong atau bergerak, pasti sudah mukul saya pake meja deh. Segala macam hal aku unek-unekin ke Pira, mulai dari stres PMS sampai stres skripsi. Bahkan jadi korban remesan kalo lagi nonton filem horor, atau ketindihan pas jam tidur siang, apalagi dari lahir sampai sekarang cara tidur aku agak “berantakan”.

PirazillaWaktu SD aku pernah bersikeras untuk membawa Pira ke sekolah, saking sayangnya. Sampai Emakku bilang: “Nanti kalo Piranya kabur melarikan diri lewat sungai gimana?” Ya, ya. Kata Emakku, tinggal setahun lagi masuk SMP pun aku masih bodoh, masih terlalu terikat sama boneka. Bahkan sampai sekarang pun begitu. Sampai-sampai Emak bertanya: “Nanti kalau kamu sudah punya calon suami, dan dia minta kamu membuang Pira, bagaimana?” Hmmm.. Bagaimana ya? Dan sepertinya Emak tidak suka ketika aku menjawab, “Ya sudah, nggak usah nikah saja.” Sepertinya aku masih terlalu terikat dengan masa lalu, ya?


Tindakan

Information

3 tanggapan

15 03 2007
Mira

aku sih sama selimut Hen. Dalam kurun waktu 32 tahun umurku ini baru punya 2 selimut. Satu selimut ‘habis” dalam waktu 15 tahun, pas aku masuk SMA, nah yang aku pake sekarang udah 17 tahun, baru bolong dikit gara2 ngerokok di kasur. Kalau pergi maunya sih selimut itu dibawa-bawa.

Selimut mah susah dibawa-bawa ya? Hehehehe. Kalo aku juga punya bantal guling sejak bayi. Tapi tidak ada skrinsyut, soale udah kumuh banget… *maloe* Tapi keren euy, selimut mami awet ya? Selimutku pasti kurang dari 10 tahun udah ilang ga tau ke mana. Dan kayaknya juga nggak pernah dibuang. Heran juga :D

15 03 2007
Hedi

mbok sekali-kali diajak ke kampungnya di kutub sana, jadi siapa tahu dia ga mau ikut kamu lagi hehehe

Waaaa… jangan pisahkan saya darinyaaaaa…. Om Hedi maaah.

18 03 2008
g

yang belum pernah kesampaian.. bertemu pira. :-(

Tinggalkan komentar