Pasar Swalayan: Antara yang Murah dan yang Menantang Usus

4 05 2007

Beberapa hari yang lalu, saya pergi ke suatu pasar swalayan (menemani teman). Bukan swalayan yang extra-super-duper mahal yang jualan barang-barang impor dengan aksara alien, tapi bukan juga swalayan grosir atau swalayan yang “rame-banget-kalo-tanggal-muda-itu” (misalnya: Swalayan Perempatan Perancis, Swalayan Raksasa, dst dsb), tapi swalayan yang gambarnya orang Romawi itu. Selama di sana hingga pulang, mungkin sudah tak terhitung berapa banyak “lebih murah di pasar kayaknya sih”, walaupun nggak mahal-mahal banget sampe kebangetan.

Memang sih, sekarang di Indonesia kayaknya harga swalayan udah mulai turun (apalagi di swalayan Perempatan, atau sejenisnya) dan bisa bersaing dengan harga pasar. Malah mungkin ada beberapa barang yang “jatuhnya” lebih murah daripada di pasar tradisional.

Waktu aku kuliah dulu, aku bergantung banget sama yang namanya swalayan. Malah pasar tradisional itu sangat susah sekali ditemukan. Sebeneranya di setiap kota itu ada sih pasar tradisional, tapi entah itu diberdayakan sebagai atraksi turis atau tempatnya terpencil sekali.

Di sana, yang namanya pasar swalayan barangnya murah-murah, seringnya lebih murah daripada di pasar tradisional. Mungkin karena mereka membeli dalam jumlah yang naudjubileh banyaknya dan mereka memang punya perkebonan yang luar biasa luas (untuk makanan jenis tumbuhan dan buah seger), perternakan yang banyak hewannya (buat makanan jenis daging-dagingan seger), dan pabrik sendiri. Jadinya harganya pun lebih bersaing begitu.

Selain itu,  di sana peraturan kedaluwarsa (mungkin sebutannya shelf life, atau display by) itu sangat diperhatikan sekali. Jadi, kalo yang sudah hampir kedaluwarsa ini didiskon gila-gilaan. Paling mentok, sehari sebelum kedaluwarsa (H-1) itu barang-barang sudah harus dijual atau dibuang. Yang pas hari itu kedaluwarsa dijadikan gratis. Malah kalau mereka melakukan “kesalahan”, misalnya dengan memajang barang kedaluwarsa (yang hari itu habis waktunya), atau yang sudah lewat tanggalnya, mereka bisa dituntut lho.

Jadi tipsnya: pergi ke pasar swalayan di malam hari (sekitar sejam atau dua jam sebelum mereka tutup (atau sejam atau dua jam sebelum pergantian hari untuk yang buka 24 jam) dan pasti akan banyak barang diskonan.

Selain itu, ada juga swalayan-swalayan yang menentukan jam diskon (misalnya di atas jam 11 siang, rak diskon baru akan diisi), nah datanglah pas jam 11 itu. Pasti barang di rak itu masih banyak dan lengkap.

Dulu aku pernah dapet sekilo kentang dengan harga 1 pence (atau 0.01 poundsterling, atau sekitar Rp170). Gila, di manapun di Indonesia nggak akan pernah bisa dapat kentang sekilo dengan harga segitu. Sering juga membeli makanan siap saji (yang kemudian masuk ke freezer untuk sebulan ke depan) dengan harga kurang dari 20 pence.

Belum lagi susu, roti, dan lain sebagainya. Memang sih ada beberapa orang dewasa yang bertanya: apa nggak takut keracunan makanan?  Tapi pada kenyataannya, mungkin karena iklim yang rada beda dari di Indonesia, makanan yang sudah tidak fresh lagi menurut tanggal di kemasannya itu masih bisa tahan sekitar semingguan. Dan kalaupun sudah berjamur (misalnya roti), bagian yang berjamur itu yang dibuang sisanya dimakan lagi. Bahkan pernah juga makan makanan berjamur tanpa sadar kalau jamurnya ikut kemakan. Maklum namanya juga ngantuk, baru bangun pagi. Yang terbersit di pikiran: “kok rotinya rada pahit ya?” tapi itu juga keburu makan 3 helai roti dulu baru nyadar. Dan masih sehat-sehat saja seperti sekarang lho. Ah, namanya juga student. Katanya, perut para mahasiswa itu lebih kebal.

Apapun sebutannya,  motto pola belanja makanan mahasiswa adalah: “Best Before. After that, Better”.

Ini nggak cuma untuk makanan dan swalayan loh sebenernya. Beli tiket nonton teater atau opera atau orkes atau orkestra juga begini. Ada teater-teater yang menjual tiket late-seating atau skema melalui badan mahasiswa (atau OSIS-OSISan gitu) yang akan ngirim SMS yang dikirimkan pada hari pertunjukan kira-kira isinya: “Tiket 5 poundsterling, datang 15 menit sebelum acara di mulai, dengan membawa kartu pelajar”.

Pasar tradisional memang nggak gitu beken dalam arti kata “tradisional”, karena barangnya kadang-kadang lebih mahal daripada di supermarket. Mungkin karena mereka numbuhin sendiri dalam jumlah yang nggak segede punya swalayan. Tapi kadang-kadang barang di pasar tradisional ini antik-antik. Dan pasar tradisional di situ benar-benar pengalaman belanja yang tak terlupakan. Mulai dari buku bekas (second-hand), pernik-pernik dan asesoris, sampai hal jagal-menjagal, sampai sayur, sampai tanaman hias dan bunga segar, buah, dan bahkan piringan hitam, semuanya tumplek ubleg di satu pasar. Pokoknya antik.

Antik-antik maksudnya: yang jarang ditemukan di pasar swalayan biasa. Misalnya, di pasar yang agak nggak jauh dari Stasiun Kereta Liverpool Street (di London), temenku jualan tahu. Dan tahunya ini mirip banget dengan tahu-tahu sumedang yang ada di Indonesia. Usut punya usut, si bule satu ini emang udah menuntut ilmu sampai ke negeri sumedang loh. Beda dengan tahu-tahu yang ada di pasar swalayan yang (bagiku) rada aneh rasanya, tahu yang ini benar-benar membangkitkan selera nostalgia. Si teman ini juga seneng banget kalo disogok sama tempe. Jadi sering juga barter tempe dengan tahu. Hohoho.

Katanya, suatu saat nanti dia juga akan memasarkan tempe a la Indonesia aseli (bukannya yang bau bir kayak yang dijual di Chinatown), tapi nanti kalo “pabriknya” sudah lebih luas dari satu petak. Kalo nggak ntar jamurnya terbang-terbang ke mana-mana, bisa-bisa tahunya nggak jadi dong.

Selain itu, nilai tambah pasar tradisional itu ada di hubungan atau interaksi langsung dan menyeluruh (hweh? naon yeuh) dengan si penjualnya (apalagi kalo ngganteng dan cakeup). Sering kali di pasar seperti ini aku belajar cara menanam a la hidroponik, mengetahui kehidupan sehari-hari kasta petani di Inggris, ngobrol-ngobrol dengan nenek pencinta buku yang menjaga stan piringan hitam, dan diundang ke pesta rakyat tradisional.

Pasar swalayan adalah hal penting dalam kehidupan ekonomis dan murah, tapi pasar tradisional tak tergantikan sebagai tempat belajar tentang keseharian para native.





Hitchhiker’s Guide to the Galaxy

25 04 2007

Suatu hari temanku, Nanas, bilang: “Tahun ini aku genap berusia 25 tahun, dan harus dirayakan dengan meriah. Karena itu, aku akan meminta hadiah yang luar biasa dari kalian semua dan kalian punya waktu tujuh bulan lebih untuk mempersiapkannya.” Setelah itu, dia mengeluarkan daftar panjang hadiah yang diinginkan (semacam wishlist gitu kali ya). Saya kebagian: “Hitchhiker’s Guide to the Galaxy (terjemahan bahasa Indonesianya)”. Entah itu atau boneka ular sanca.

Saya kemudian bertanya, “Memang Hitchhiker’s itu udah diterjemahin ke bahasa Indonesia, ya? Cari di mana?”

Dia bilang, “Wah, meneketehe.”

Setelah ancaman-ancaman pembunuhan keluar dari mulutku, disertai dengan tendangan-tendangan tanpa bayangan dan tanpa rasa sakit sedikit pun (kecuali pada yang menendang), dia bilang, “Rasanya sih ada, tapi gue ga ngerti beli di mana. Gini aja deh, kalo emang ada, ya beliin dong ya. Kalo ga ada, lu yang terjemahin aja sendiri. Lu kan punya persi bahasa inggerisnya kan? Gitu aja kok repot?”

Jadi teman-temanku yang kucintai dan kusayangi, tolonglah saya ya. Jadi itu benda bisa saya beli di mana?

Dan, ini bab satu dari Hitchhiker’s Guide to the Galaxy yang sudah saya coba alih-bahasakan ke bahasa Indonesia yang tentu saja hancur dan rusak kabeh. His name is also effort kan ya?

Pada suatu hari Kamis, kira-kira jam makan siang, Bumi secara tiba-tiba digusur untuk program pembebasan lahan untuk membuat jalan raya antariksa. Bagi Arthur Dent, yang rumahnya baru saja dirobohkan pagi itu, hal ini sepertinya sudah sangat berlebihan. Sayangnya, akhir pekan baru saja dimulai, dan Angkasa Luar adalah tempat yang sangat aneh dan mencengangkan. (Adams, D (1979) Hitch Hiker’s Guide to the Galaxy (London: Pan Books)

Jadi begitulah kira-kira. *sembunyi lagi*

  • Terjemahan (belom diedit, belom dibaca lagi, dan lainsebagenya) bahasa Indonesianya.
  • Bahasa Inggrisnya (dalam bentuk .pdf), versi “The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy Deluxe 25th Anniversary Edition’ by Douglas Adams Copyright © 2004. Published by Harmony Books, a division of Random House, Inc.” Diambil dari: npr.org




Nieuwenhuys: Kartini dan Sastra

18 04 2007

Jadi…. tanggal 21 April kan ya? Sekarang belum 21 April, sih tapi biarlah. Ini hasil iseng melanjutkan usaha nerjemahin asal (tanpa editor dan tanpa dibaca lagi soale males) yang dulu.

Tentang Kartini, sastra, dan keluarga-keluarga Belanda yang terinspirasi olehnya. Diembat dari buku Rob Nieuwenhuys “Oost Indische Spiegel” yang udah diingriskan. Bahasa Belanda mah eike ga bisa.

‘Kartini mewakili sosok perempuan Jawa yang telah membebaskan dirinya sendiri dari kungkungan tradisi Jawa agar dapat berkembang sesuai dengan alur pemikiran Eropa. Judul Habis Gelap Terbitlah Terang (Door duisternis tot licht, 1911), yang diberikan Abendanon untuk kumpulan surat-surat Kartini, menggarisbawahi pendapat ini. Legenda Belanda yang mengelilingi sosok Kartini kemudian diangkat, dan dikembangkan oleh masyarakat Indonesia. Dari seorang wanita yang berjuang bagi hak-hak wanita dari keserakahan kaum laki-laki, terhadap poligami dan pelacuran, ia menjadi “simbol kebangkitan bangsa Indonesia”, hingga akhirnya berevolusi menjadi seorang “pahlawan nasional”. Dan di saat itulah mungkin kita telah kehilangan sosok Kartini yang sesungguhnya.’ (Nieuwenhuys)





OST: Apabila Hidup adalah Panggung Sandiwara

30 03 2007

Halah! Kebagian juga akhirnya disuruh ngisi “Soundtrack of My Life”. Dapet suruhan (forward-an) dari beberapa orang, dan daripada ngeripleh dan ngeforward satu-satu lagi kan ya?

“Following the craze of Oscar-Winning Dreamgirls where every scene seems to merit a song of its own… Why not try and make one for yourself. For this, you will need to take all the music you have and put it in shuffle. Press play. Type the song currently playing under each title. Press “next” button for every new title. Don’t cheat, don’t try to be cool. It’s only for fun, anyway. Comment as necessary.”

Baca entri selengkapnya »





Pira: Beruang Kutub Polisterin yang Setia

15 03 2007

piraimutIni Pira, dia ini hadiah dari Bapak ketika aku naik kelas enam SD. Pira itu singkatan dari “Putih Merah” (aneh ya?). Katanya sih hadiah kenaikan kelas. Emang aku waktu duduk di kelas lima ada masalah sedikit dengan acara naik-naikan kelas. Nilaiku entah mengapa jebol-jebol kabeh. Ini pasti gara-gara IPA yang mulai susah, yang mulai pake menghitung titik api cermin cekung cembung segala. Aku kan lebih suka IPA yang biologi, daripada IPA yang matematikaan begitu. Tapi, seneng banget, soalnya Bapakku itu jarang banget ngasih hadiah. Jarang banget. Dari sejak memberi Pira sampai sekarang, sepertinya nggak ada hadiah lagi. Tentu saja kesediaan Bapak membesarkan aku, menyekolahkan, memberi makan, dan kost gratis adalah hadiah tersendiri. Tapi, Pira ini berbeda. Mungkin kalau aku disuruh memilih hanya satu saja benda (dan yang lain harus diserahkan), aku akan memilih Pira. Alasannya banyak, tapi alasan yang paling kuat adalah karena Pira adalah hadiah dari Ayah.

pirahororSekarang, sudah lebih dari 14 tahun Pira hidup bareng aku. Mulai dari ketika bulunya masih lengkap, sampai sekarang yang udah botak di mana-mana. Pira itu kalau bisa ngomong atau bergerak, pasti sudah mukul saya pake meja deh. Segala macam hal aku unek-unekin ke Pira, mulai dari stres PMS sampai stres skripsi. Bahkan jadi korban remesan kalo lagi nonton filem horor, atau ketindihan pas jam tidur siang, apalagi dari lahir sampai sekarang cara tidur aku agak “berantakan”.

PirazillaWaktu SD aku pernah bersikeras untuk membawa Pira ke sekolah, saking sayangnya. Sampai Emakku bilang: “Nanti kalo Piranya kabur melarikan diri lewat sungai gimana?” Ya, ya. Kata Emakku, tinggal setahun lagi masuk SMP pun aku masih bodoh, masih terlalu terikat sama boneka. Bahkan sampai sekarang pun begitu. Sampai-sampai Emak bertanya: “Nanti kalau kamu sudah punya calon suami, dan dia minta kamu membuang Pira, bagaimana?” Hmmm.. Bagaimana ya? Dan sepertinya Emak tidak suka ketika aku menjawab, “Ya sudah, nggak usah nikah saja.” Sepertinya aku masih terlalu terikat dengan masa lalu, ya?





Nostalgila: World Cup 2002 (QF)

12 03 2007

Ngobok-ngobok buku harian – eh vade mecum (kalo kata temenku yang agak nggak suka dengan kata “diari”, “buku harian”, atau samting laik det) buat nyari-nyari bahan ngeblog baru, eh… nemu cerita tentang nonton (pertandingan) Piala Dunia di Trafalgar Square. Bener-bener kayak sesuatu yang tak terlupakan gitu deh… nonton Piala Dunia rame-rame gitu, baru pertama kalinya, dan bahkan mungkin terakhir kalinya…

Catatan di bawah ini diketik langsung dari catatan harian waktu itu, eh… dengan sedikit perubahan sana-sinilah.

Baca entri selengkapnya »





Nostalgila: UEFA Champions League 2005

4 03 2007

Tadinya pengen nulis tentang lakon “Putri Tidur” dari sendratari balet Rusia yang baru kemaren (lihat postingan sebelom ini). Tapinya, pas baca blognya Om Hedi jadi tiba-tiba teringat suatu malam yang sangat mengesankan. Aku sendiri hampir lupa kalo malam itu adalah malam final UEFA Champions League, saking hebohnya dikejar-kejar tengat skripsi dan urusan sekolah lainnya. (Jadi ingat rasa pengen mati yang sangat mendalam dan membekas).

Baca entri selengkapnya »